Hari Sabtu (1/12/18) kemarin Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor menggelar kegiatan Forum Diskusi Pangan Nasional bertajuk “ Future Upon The Rice” yang di selenggarakan di  IPB International Conventinon center ( I I CC) Bogor.

Peserta Forum Diskusi Pangan Nasional ini berasal dari kalangan pejabat negara, akademisi dan masyarakat umum. Penyelenggara Forum Diskusi Pangan Nasional ini adalah mahasiswa Program Studi Komunikasi Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor, sebagai salah satu project besar yang edukatif untuk mendukung kemajuan pangan Indonesia dan untuk menyukseskan program swasembada pangan.

Forum Diskusi Pangan Nasional ini dihadiri oleh Komjen. Pol. (Purn.) Drs. Budi Waseso (Di rektur Utama Bulog) , Dr, Ir. Rizal Ramli, M.A. (Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI /Ekonom), Prof. Dr.Ir. Dwi Andreas Santosa, MS (Guru Besar Faperta IPB), Dr.Ir. Agung Hendriadi, M.Eng (Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian RI), Dr.Ir. Kasan Muhri,MM (Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan RI), Dr. Arif Satria (Rektor IPB) dan Dr.Ir. Arief Darjanto, M.Ec (Dekan Sekolah Vokasi IPB)

Forum diskusi nasional ini membahas tentang perkembangan pangan terkini di Indonesia. Pokok bahasan yang diperdalam yaitu mengenai swasembada beras yang merupakan program pemerintah dalam upaya memenuhi kebutuhan pangan di Indonesia secara mandiri. Forum diskusi ini bertujuan untuk mengungkap kendala yang dialami oleh sektor pangan di Indonesia saat ini, sekaligus pemecahan masalah mengenai berbagai permasalahan pangan yang dialami Indonesia dari berbagai sudut pandang.

Kelima pembicara dalam acara Forum Diskusi Pangan Nasional ini telah memaparkan isu pangan dimulai dari penyebab impor beras hingga penjelasan mengenai solusi untuk kemajuan pangan di Indonesia. Salah satunya adalah Komjen. Pol .(Purn.) Drs. Budi Waseso selaku Direktur Utama Bulog yang menyampaikan bahwa kita tidak boleh menghitung kecukupan beras dari stok Bulog saja, karena apabila kita hanya bergantung pada beras yang ada di Bulog maka ketahanan pangan dihitung hanya akan bertahan selama satu bulan. Beliau juga menyampaikan bahwa distribusi beras Indonesia saat ini dipermainkan oleh para mafia sehingga distribusi beras menjadi tidak stabil.

Sedangkan dari sudut pandang pakar keilmuan, Prof. Dr. I r. Dwi Andreas Santosa, MS menyampaikan bahwa sebenarnya petani sudah mulai inisiatif untuk berinovasi seperti pada contoh penanaman IF 8 kar a petani Karanganyar diberbagai daerah di Indonesia dan juga teknologi teknologi pertanian yang mempermudah petani dalam meningkatkan produksi beras.

Shinta Syamsul Arief selaku moderator , menyimpulkan hasil diskusi dari seluruh pembicara bahwa Indonesia sebenarnya mampu menjadi negara yang mandiri mencukupi kebutuhan pangannya sendiri dilihat dari berbagai aspek. Namun, terdapat beberapa hal seperti kebijakan, sistem, dan permainan oleh oknum tidak bertanggung jawab yang menghambat berjalannya swasembada pangan. Solusi yang dirangkum untuk pangan Indonesia sendiri yaitu dengan memperbaiki sistem kebijakan pangan, menyejahterakan petani , dan mengembangkan pertanian yang modern.