
Bogor, 15 Juni 2025 – Mahasiswa semester 4 Program Studi Ekowisata, Sekolah Vokasi IPB University Angkatan 60 sukses melaksanakan kegiatan rekreasi edukatif dan interaktif yang menyasar kelompok masyarakat dari berbagai latar belakang, mulai dari anak-anak, lanjut usia (lansia), hingga penyandang disabilitas. Kegiatan ini merupakan implementasi dari mata kuliah Rekreasi Anak, Lanjut Usia, dan Disabilitas (RALUD), yang dilaksanakan di sembilan lokasi berbeda di wilayah Bogor dan Sukabumi.
Kegiatan ini dirancang secara tematik oleh setiap kelas dan kelompok praktikum dengan mengusung pendekatan berbasis stimulasi psikomotorik, sosial-emosional, serta kognitif. Program ini sekaligus menjadi cerminan nyata misi Sekolah Vokasi IPB dalam menjalankan tridarma perguruan tinggi yang berdampak langsung bagi masyarakat, sekaligus mendukung arah kebijakan Direktorat Pendidikan Tinggi Vokasi dan Profesi (Diktiristek) Kemendikbudristek yang mendorong pendidikan vokasi terapan berbasis kebutuhan masyarakat dan berorientasi pada kebermanfaatan sosial.
Menurut dosen penanggung jawab mata kuliah, Dr. Occy Bonanza, kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai bentuk pembelajaran di luar kelas, tetapi juga sebagai strategi untuk membangun empati, interaksi sosial, serta kemampuan mahasiswa dalam merancang kegiatan berbasis inklusi dan keberagaman.
“Setiap kelompok merancang permainan modifikasi dan aktivitas tematik yang menyatukan unsur edukasi, hiburan, dan pemberdayaan, sehingga tidak hanya bermanfaat secara psikologis dan fisik, tetapi juga membangun harmoni antara mahasiswa dan masyarakat sasaran dalam semangat ekowisata sosial,” jelasnya.
Mahasiswa terbagi dalam kelompok-kelompok yang mengadakan kegiatan di lokasi berbeda. Di antaranya, Kelas A1 yang menyelenggarakan kegiatan di Rumah Perawatan Usia Lanjut Kristen Muara Kasih pada 2 Juni 2025 dengan tajuk Harmoni Jiwa dan Raga: Senyum Lansia Harmoni Semesta. Di hari yang sama, Kelas A2 hadir di SLB B & C Tunas Kasih 2 dengan kegiatan Pelangi Sensasi Raga Ekspresi, yang menghadirkan aktivitas multisensori bagi anak-anak penyandang disabilitas.
Di wilayah Sukabumi, Kelas Q1 dan Q2 menggelar kegiatan di Panti Sosial Wreda Bale Nyaah Ka Kolot, Panti Kasih GKI Sukabumi, serta SLB A dan C Budi Nurani. Aktivitas yang dihadirkan meliputi gerak aktif, ekspresi seni, permainan tematik, hingga pengenalan tanaman herbal dan aromaterapi sederhana.

Dr. Occy mengungkapkan bahwa semua kegiatan ini dirancang dengan prinsip inklusivitas dan partisipatif. Mahasiswa harus mampu menyesuaikan pendekatan dengan kondisi fisik, kognitif, dan psikososial masing-masing peserta. Ia menjelaskan bahwa dengan pendekatan berbasis komunitas, mahasiswa Ekowisata dilatih menjadi fasilitator yang tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga kepekaan sosial.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya mampu menyusun program, tetapi juga memahami siapa yang mereka hadapi, bagaimana menyapa dengan empati, serta menyampaikan materi edukasi dalam bahasa yang menyenangkan dan mudah diterima,” ungkapnya.
Tak kalah menarik, kegiatan bertajuk Hari Bahagia: Permainan Tradisional, Kreativitas Tanpa Batas yang dilaksanakan oleh Kelas B1 di The Yatim Village pada 31 Mei 2025 menjadi ruang rekreasi bagi anak-anak yatim melalui permainan edukatif berbasis nilai budaya lokal. Sementara itu, di TK Daruttaqwa Foundation, mahasiswa menyelenggarakan event Masayu (Main Sains Yuk!) yang memperkenalkan sains dasar melalui eksperimen menyenangkan.
Kegiatan ini tidak hanya memberikan ruang ekspresi bagi para peserta, tetapi juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk membangun kepemimpinan, kerja tim, dan empati melalui kegiatan yang nyata. Sebagai bagian dari pendidikan vokasional, program ini memperkuat prinsip applied learning yang mendorong mahasiswa untuk menjadi insan akademik yang siap berkontribusi bagi masyarakat luas. (EKW)
