
Minggu, 30 Nopember 2025
Mulyaharja-
Tim dosen Program Studi Manajemen Agribisnis (MAB) Sekolah Vokasi IPB University menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Terpusat dan Terpadu di Kelurahan Mulyaharja, Kota Bogor, pada Minggu (30/11). Melalui pelatihan pembuatan keripik cabai merah, kegiatan ini bertujuan memperkuat ketahanan pangan rumah tangga sekaligus mengembangkan nilai tambah produk lokal berbasis pekarangan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya strategis Sekolah Vokasi IPB University dalam membumikan konsep sosioentrepreneurship sebagai landasan pembangunan berkelanjutan di tingkat akar rumput. Sebagai kampus pelopor inovasi, IPB University terus mendorong pengembangan model edukasi yang berdampak langsung kepada masyarakat, khususnya melalui program D4 terapan berbasis kompetensi dan praktik lapang.
Bertempat di Kelompok Wanita Tani (KWT) Ciharashas RW 01, pelatihan ini menghadirkan proses pembuatan keripik cabai merah dari tahap pengolahan hingga pengemasan. Peserta, yang sebagian besar ibu rumah tangga, terlibat aktif dalam sesi praktik, menunjukkan antusiasme tinggi terhadap potensi usaha pangan rumahan berbasis komoditas lokal.
“Ini adalah langkah kecil dengan dampak nyata. Dengan mengolah cabai menjadi keripik, masyarakat tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan keluarga tetapi juga menciptakan produk oleh-oleh khas Mulyaharja,” ujar Dr. Wien Kuntari, dosen MAB sekaligus salah satu inisiator kegiatan.
Instruktur pelatihan menjelaskan langkah teknis mulai dari pemilihan bahan, seperti tepung beras, tepung tapioka, dan tepung bumbu, hingga teknik blanching, penepungan, dan penggorengan cabai hingga keemasan. Peserta juga diajarkan memilih kemasan yang sesuai agar produk tahan lama dan menarik secara visual.
Tak hanya itu, aspek legalitas turut dibahas. Peserta diperkenalkan pada pentingnya sertifikasi pangan rumah tangga (PIRT) untuk menjamin keamanan dan membuka akses pasar. Materi ini memberikan kesadaran bahwa cabai dapat dikembangkan menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi, melampaui fungsi dasarnya sebagai bumbu dapur.
Menurut Lukie Trianawati, S.T.P., M.Si, dosen Supervisor Jaminan Mutu Pangan yang juga terlibat dalam kegiatan, diversifikasi olahan pangan lokal seperti keripik cabai merupakan bentuk konkret dari ketahanan pangan berbasis keluarga. “Pangan tidak hanya soal ketersediaan, tetapi juga soal kreativitas masyarakat dalam mengolah dan memberi nilai tambah terhadap hasil pekarangan mereka,” tegasnya.
Ia menambahkan, edukasi melalui pengabdian seperti ini juga menanamkan semangat kewirausahaan sosial (sosioentrepreneur), sehingga masyarakat dapat berdaya secara mandiri tanpa tergantung pada pasar luar. “Ketahanan pangan dimulai dari dapur sendiri, dari kreativitas rumah tangga,” imbuh Lukie.
Ketua Kegiatan Pengabdian Terintegrasi Sekolah Vokasi IPB University, Dr. Doni Manalu, turut memberikan arahan penting terkait aspek keberlanjutan program. “Pemasaran menjadi langkah krusial setelah masyarakat mahir dalam produksi. Pelatihan selanjutnya harus menyasar aspek promosi dan manajemen usaha,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan program pengabdian tidak hanya diukur dari keterampilan teknis, tetapi juga dari kemampuan masyarakat mengelola dan memasarkan produknya secara berkelanjutan. Menurutnya, potensi produk seperti keripik cabai perlu difasilitasi hingga ke jejaring UMKM agar manfaatnya semakin luas.
Kegiatan ini juga memperlihatkan kolaborasi solid antara dosen, mahasiswa, dan masyarakat dalam satu ekosistem pembelajaran nyata. Mahasiswa MAB turut mendampingi peserta secara langsung selama praktik, memperkuat interaksi edukatif dan pemberdayaan berbasis partisipatif. (MAB/ASW)
