
13 Oktober 2025
Sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat terpadu tahun kedua, Program Studi Ekowisata, Sekolah Vokasi IPB University menyelenggarakan pelatihan penyusunan paket wisata bagi warga sekitar destinasi Saung Eling dan Agro Edu Wisata Organik (AEWO) di Kelurahan Mulyaharja, Kota Bogor. Kegiatan yang berlangsung selama lima hari, mulai 7 hingga 13 Oktober 2025, ini diikuti oleh 22 peserta dari berbagai elemen masyarakat lokal, dengan tujuan memperkuat kapasitas warga dalam mengelola potensi wisata berbasis pertanian dan edukasi secara profesional dan berkelanjutan.
Ketua Program Studi Ekowisata, Kania Sofiantina Rahayu, S.I.Kom., M.Par., MTHM menyampaikan bahwa paket wisata memiliki peran strategis dalam mempromosikan objek dan daya tarik lokal secara terstruktur. Menurutnya, penyusunan paket wisata yang tepat akan memudahkan wisatawan mengenal potensi Mulyaharja sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
“Paket wisata merupakan suatu rencana kegiatan wisata yang telah disusun secara tetap dengan harga tertentu yang mencakup transportasi, akomodasi, objek dan daya tarik wisata serta fasilitas penunjang lainnya,” ujar Kania dalam paparannya pada hari pertama pelatihan (7/10).
Kania Sofiantina menambahkan bahwa dalam tahapan perencanaan, peserta perlu memahami konsep segmentasi, targeting, dan positioning. Segmentasi membantu membagi pasar sesuai kebutuhan dan preferensi, targeting menentukan fokus pasar wisata, sedangkan positioning menekankan keunikan paket yang membedakannya dari paket wisata lain.
Pelatihan berlanjut pada hari kedua (8/10) dengan materi survei lapangan yang disampaikan oleh Dr. Rini Untari, S.Hut., M.Si. Dalam penke;asannya Dr. Rini menjelaskan bahwa survei lapangan adalah tahapan krusial sebelum menyusun itinerary dan menetapkan harga, karena mencakup identifikasi elemen-elemen perjalanan seperti akomodasi, restoran, transportasi, atraksi, dan souvenir.
“Kegiatan survei penting dilakukan langsung di lapangan agar paket wisata yang dirancang benar-benar relevan dan berdampak positif,” jelas Rini.
Rini menambahkan, karena fokus kegiatan pelatihan ini adalah wisata edu-agro, maka atraksi yang dipilih harus menggabungkan unsur pertanian dan edukasi tanpa mengabaikan aspek rekreatif.
“Wisata edu-agro adalah kombinasi antara agrowisata dan edukasi, yang memberikan nilai tambah melalui pengalaman belajar dan rekreasi di lokasi pertanian,” ungkapnya.
Materi hari ketiga (9/10) dibawakan oleh Dr. Occy Bonanza, SP., MT., yang membahas penyusunan itinerary atau jadwal perjalanan wisata. Menurutnya, itinerary merupakan alat komunikasi penting dalam menggambarkan alur perjalanan wisatawan dari awal hingga akhir.
“Itinerary memberikan gambaran kepada wisatawan tentang ke mana akan pergi, apa yang dapat dilakukan, dilihat, dan berapa lama waktu yang diperlukan,” terang Dr. Occy.
Dalam menyusun itinerary, kata Dr. Occy, diperlukan wawasan menyeluruh mulai dari geografi pariwisata, aksesibilitas, jenis transportasi, hingga jenis makanan yang tersedia.
“Rute perjalanan, variasi objek, urutan kunjungan, dan daya tahan fisik wisatawan menjadi pertimbangan penting agar wisata berjalan nyaman dan tidak monoton,” ujarnya.
Tahap selanjutnya pada tanggal 10 Oktober 2025 adalah penetapan harga, dipandu oleh Dyah Prabandari, SP., M.Si. Pada pemaparannya Dyah Prabandari tidak hanya menjelaskan konsep teori penentuan harga, tetapi juga mengajak peserta untuk menghitung langsung harga paket yang telah dirancang sebelumnya.
“Harga wisata menggambarkan keseluruhan biaya yang dikeluarkan ditambah dengan keuntungan yang diharapkan. Ini penting agar pengelolaan wisata tetap berkelanjutan secara ekonomi,” paparnya.
Dyah Prabandari menguraikan tahapan penghitungan biaya mulai dari rekap seluruh pengeluaran, perhitungan biaya tetap dan variabel, hingga transformasi harga bersih menjadi harga jual. Dyah Prabandari juga menekankan pentingnya fleksibilitas harga sesuai permintaan pasar dan kemampuan daya beli calon wisatawan.
Sesi terakhir pada 13 Oktober 2025 membahas tahap evaluasi dan disampaikan oleh Ira Resmayasari, S.S., M.Par., MTHM, selaku penanggung jawab kegiatan pengabdian masyarakat Program Studi Ekowisata. Ira Resmayasari menegaskan bahwa evaluasi adalah langkah penting untuk menyempurnakan konten, alur, dan strategi pemasaran paket wisata.
“Evaluasi menjadi sarana refleksi dan pembelajaran agar pengembangan wisata desa dapat berjalan berkelanjutan dan profesional,” tegasnya.
Ira Resmayasari menyebutkan beberapa aspek penting dalam evaluasi, mulai dari nilai edukatif, fasilitas, kesiapan SDM, hingga dampak sosial dan lingkungan. Evaluasi dilakukan melalui simulasi, observasi langsung, kuesioner, wawancara, serta diskusi kelompok (FGD).
“Tindak lanjut evaluasi dapat berupa revisi konten atau harga, penyesuaian alur kegiatan, serta strategi promosi yang lebih tepat sasaran seperti media sosial dan kemitraan komunitas,” pungkasnya.
Kegiatan ini juga didukung penuh oleh para dosen Program Studi Ekowisata Sekolah Vokasi IPB University, antara lain: Dr. Helianthi Dewi, S.Hut., M.Si; Teguh Jati Purnama, S.Hut., M.Si; Dr. Melewanto Patabang, S.Hut., M.Si; Bedi Mulyana, S.Hut., M.Par., MMCAP; dan Natasha Indah Rahmani, ST., MT.
Melalui pelatihan ini, SV IPB University kembali menunjukkan komitmennya sebagai kampus pelopor inovasi untuk solusi berkelanjutan, khususnya dalam mendukung pengembangan ekowisata berbasis masyarakat yang mampu meningkatkan daya saing desa wisata secara mandiri dan inklusif. (EKW/ASW)