
Sukabumi — Tim Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) IPB University melaksanakan Sekolah Lapang bertajuk “Dari Limbah Menjadi Manfaat” bagi kelompok peternak domba di Desa Sudajaya Girang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan peternak dalam mengelola limbah peternakan agar dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang berguna dan bernilai ekonomi. Melalui penerapan bioaktivator Biores, limbah kotoran domba diperkenalkan untuk diolah menjadi pupuk organik sekaligus dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan usaha peternakan dan perikanan.
Program ini tidak hanya berfokus pada pengurangan limbah dari aktivitas peternakan, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah usaha yang dijalankan kelompok peternak. Para peserta mendapatkan pengetahuan mengenai pengolahan kotoran ternak menjadi pupuk, pemanfaatan limbah sebagai media budi daya perikanan, serta penerapan manajemen pemeliharaan dan biosekuriti yang lebih baik. Melalui pendekatan tersebut, limbah yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal diharapkan dapat menjadi sumber daya yang mendukung usaha peternakan secara berkelanjutan.
Dosen Peternakan Sekolah Vokasi IPB University, Annisa Hakim, S.Pt., M.Si., menjelaskan bahwa program dirancang dengan pendekatan yang mencakup berbagai aspek pengelolaan peternakan. Pendampingan tidak hanya diberikan dalam pengolahan limbah, tetapi juga mencakup manajemen pemeliharaan ternak, penerapan biosekuriti, hingga pencatatan usaha peternakan. Upaya tersebut dilakukan agar peternak dapat mengelola usaha secara lebih tertib sekaligus meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan usaha.
“Program ini dirancang untuk membantu peternak memperbaiki manajemen pemeliharaan, menerapkan biosekuriti, mengelola limbah dengan tepat, serta mulai melakukan pencatatan usaha agar pengelolaan peternakan dapat berjalan lebih tertib dan berkelanjutan,” ujar Annisa Hakim.
Pemanfaatan bioaktivator Biores juga diterapkan melalui demonstrasi lahan sebagai bentuk uji terap hasil pengolahan limbah peternakan. Sebanyak 100 kilogram pupuk Biores hasil fermentasi diaplikasikan pada lahan milik salah satu peternak berukuran 6 x 7,7 meter. Setelah masa inkubasi selama satu minggu, lahan tersebut ditanami rumput odot sebagai hijauan pakan ternak untuk menunjukkan penerapan teknologi sederhana dalam mendukung ketersediaan pakan secara berkelanjutan (12-19/7/2026).
Dimas Prayoga, anggota tim pengembang produk, menjelaskan bahwa pupuk Biores dikembangkan melalui proses fermentasi dengan memanfaatkan bahan tambahan dari limbah organik. Penambahan kulit pisang dan limbah nanas dilakukan untuk memperkaya kandungan unsur hara dalam pupuk yang dihasilkan. Pupuk Biores memiliki pH sekitar 6–7, bertekstur remah, serta memiliki kandungan NPK yang tinggi.
“Pupuk Biores memiliki pH sekitar 6–7 dengan tekstur remah dan kandungan NPK yang tinggi. Penambahan limbah kulit pisang dan nanas dalam proses fermentasi dilakukan untuk memperkaya unsur hara yang terdapat dalam pupuk,” kata Dimas Prayoga.
Selain diolah menjadi pupuk, limbah peternakan juga diperkenalkan untuk dimanfaatkan dalam sektor perikanan. Feses domba dapat digunakan sebagai media budi daya moina atau kutu air yang memiliki nilai jual sekitar Rp10.000 per kantong, sedangkan cacing merah (Lumbricus) berpotensi menjadi bahan pakan ikan sekaligus substitusi tepung ikan impor. Tim juga mengenalkan sistem bioflok sebagai metode budi daya ikan yang dapat dikembangkan berdampingan dengan usaha peternakan.
Tera Fit Rayani, S.Pt., M.Si., dosen Peternakan Sekolah Vokasi IPB University, menjelaskan bahwa pengolahan limbah menjadi pupuk perlu mempertimbangkan karakteristik bahan baku dari setiap jenis ternak. Feses domba memiliki karakteristik berbeda dengan kotoran ayam sehingga membutuhkan bahan tambahan tertentu dalam proses pengolahannya. Penambahan limbah nanas dan kulit pisang digunakan untuk memperkaya kandungan NPK pada pupuk yang berasal dari feses domba.
“Feses domba memerlukan tambahan limbah nanas dan kulit pisang untuk memperkaya kandungan NPK karena feses dan urin domba terpisah. Kondisi ini berbeda dengan kotoran ayam yang umumnya sudah bercampur dengan urin,” ujar Tera Fit Rayani.

Rangkaian Sekolah Lapang dilaksanakan melalui beberapa tahapan pendampingan dan praktik langsung bersama kelompok peternak. Sebanyak 11 peternak mengikuti pelatihan mengenai manajemen pemeliharaan, biosekuriti, sanitasi kandang, pengendalian penyakit, pakan ternak, serta strategi pemasaran hasil usaha. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik pembuatan kompos menggunakan bioaktivator Biores yang dipandu mahasiswa, serta pemberian paket alat sanitasi, papan pencatatan, dan perlengkapan pendukung kepada para peternak (28/7/2026).
Kegiatan tersebut melibatkan dosen dan mahasiswa Program Studi Peternakan Sekolah Vokasi IPB University serta Dian Eka Ramadhani, S.Pi., M.Si., yang dihadirkan untuk memberikan penguatan materi di bidang perikanan. Tim kemudian melakukan kunjungan lapangan pada Minggu (9/8/2026) ke sejumlah peternakan untuk memastikan penerapan Biores setelah rangkaian pendampingan. Hasil kunjungan menunjukkan sebagian besar peternak telah mulai mengaplikasikan bioaktivator dengan menyemprotkannya pada lantai kandang maupun menuangkannya ke tumpukan feses.
Salah satu peternak, Epul, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan pengetahuan baru mengenai pemanfaatan limbah peternakan. Epul mulai memahami bahwa kotoran ternak dapat diolah kembali menjadi produk yang bermanfaat bagi kegiatan pertanian. Pengetahuan tersebut juga mendorong Epul untuk memanfaatkan pupuk hasil pengolahan Biores pada tanaman.
“Dalam kegiatan ini saya jadi tahu bagaimana caranya melakukan pengolahan limbah kotoran menjadi sangat bermanfaat bagi saya, terutama saya dapat menggunakan pupuk hasil bioaktivator Biores untuk tanaman,” ujar Epul.
Melalui Sekolah Lapang “Dari Limbah Menjadi Manfaat”, Tim PKM IPB University berharap pengetahuan dan teknologi yang diberikan dapat terus diterapkan oleh kelompok peternak di Desa Sudajaya Girang. Pemanfaatan limbah menjadi pupuk, media budi daya, maupun bahan pendukung pakan diharapkan dapat mengurangi limbah sekaligus meningkatkan nilai tambah usaha peternakan. Keberlanjutan penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat mendorong pengelolaan peternakan yang lebih tertib, produktif, dan ramah lingkungan (NAD & SS).