Mengenal Makna Patriotisme di Era Digital bersama Wali Kota Bogor di MPKMB Sekolah Vokasi IPB University

Bogor, 11 Agustus 2026 – Memasuki dunia perguruan tinggi, mahasiswa tidak hanya dihadapkan pada tuntutan untuk mengembangkan kompetensi akademik, tetapi juga perlu memahami perannya sebagai bagian dari generasi yang akan menentukan arah bangsa. Hal tersebut menjadi salah satu pesan yang mengemuka dalam rangkaian Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) 63 Sekolah Vokasi IPB University melalui pemaparan Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim bertajuk “Navigasi Kehidupan: Patriotisme Membina Lanskap Kebangsaan di Era Digital.”

Di hadapan mahasiswa baru, Dedie A. mengajak generasi muda untuk melihat patriotisme dalam konteks yang lebih luas. Perjuangan membela bangsa pada masa kini tidak lagi hanya berbentuk perjuangan fisik atau mempertahankan batas negara, tetapi juga hadir melalui penguasaan teknologi, kemampuan menghadapi perang informasi, membangun narasi digital, serta kesiapan memiliki kompetensi yang mampu bersaing secara global. Perubahan lanskap kehidupan tersebut turut membawa tantangan baru bagi mahasiswa. Salah satunya adalah derasnya arus informasi di ruang digital yang membuat sebuah informasi dapat menyebar lebih cepat daripada proses verifikasinya. Dedie mengingatkan pentingnya membangun kebiasaan untuk berhenti sejenak sebelum membagikan informasi, memeriksa kebenarannya, mempertimbangkan manfaatnya, dan memastikan informasi yang disebarkan tidak justru memecah persatuan.

“Penggunaan media digital perlu disertai dengan tanggung jawab dan kehati-hatian. Informasi dapat bergerak lebih cepat daripada proses verifikasi, sehingga setiap informasi yang diterima perlu diperiksa terlebih dahulu sebelum dibagikan. Setiap unggahan memiliki potensi untuk memberikan dampak, baik dalam membangun maupun dalam memengaruhi kehidupan masyarakat. Karena itu, mari kita membangun kebiasaan untuk menahan diri, memastikan kebenaran informasi, mempertimbangkan manfaatnya, serta menggunakan ruang digital sebagai sarana yang dapat memperkuat persatuan,” ujar Dedie A.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah kehidupan mahasiswa yang tidak terlepas dari teknologi digital. Karena itu, kemampuan menggunakan teknologi perlu berjalan beriringan dengan kecerdasan dalam menyaring informasi dan kesadaran terhadap dampak dari setiap tindakan di ruang digital. Salah satu teknologi yang turut menjadi perhatian adalah kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI). Dedie mendorong mahasiswa untuk menguasai AI dan menjadikannya sebagai copilot, bukan pengganti kemampuan berpikir. AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung riset, analisis, inovasi, dan produktivitas, sementara kreativitas, berpikir kritis, dan integritas tetap menjadi kemampuan manusia yang tidak boleh ditinggalkan.

Di sisi lain, keberagaman mahasiswa baru juga ditempatkan sebagai kekuatan dalam membangun kehidupan kebangsaan. Sebanyak 2.700 mahasiswa dengan berbagai latar belakang dipandang sebagai modal sosial dan intelektual yang dapat memperkaya lingkungan akademik. Perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk membangun jarak, tetapi menjadi kesempatan untuk belajar memahami perspektif yang beragam.

Dalam pemaparannya, Dedie juga mengingatkan mahasiswa untuk tidak terjebak menjadi konsumen semata. Mahasiswa didorong mengembangkan mindset sebagai kreator, inovator, problem solver, dan pemimpin dengan mulai mengubah pertanyaan dari “apa yang bisa saya dapatkan?” menjadi “masalah apa yang bisa saya selesaikan?” dan “apa yang bisa saya berikan?”.

Semangat tersebut selaras dengan karakter pendidikan vokasi yang menghubungkan kompetensi dengan solusi. Proses pembelajaran tidak berhenti pada penguasaan keterampilan dasar, tetapi dilanjutkan melalui praktik nyata, penerapan teknologi, dan inovasi hingga menghasilkan dampak bagi masyarakat. Dalam konteks tersebut, Dedie menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya pintar, tetapi mampu menggunakan pengetahuannya untuk menyelesaikan persoalan.

“Indonesia membutuhkan orang pintar yang mampu menyelesaikan masalah. Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya memiliki pengetahuan dan kompetensi, tetapi juga harus mampu menerapkan apa yang dipelajari untuk menghasilkan solusi yang nyata. Ilmu yang dimiliki harus dapat memberikan manfaat dan menjawab berbagai persoalan yang ada di tengah masyarakat,” ujar Dedie A.

Kota Bogor pun ditawarkan sebagai ruang pembelajaran yang dapat dimanfaatkan mahasiswa. Berbagai persoalan perkotaan seperti transportasi dan kemacetan, lingkungan dan sampah, digitalisasi UMKM, pelayanan publik, hingga ketahanan pangan dapat menjadi ruang penerapan ilmu sekaligus sumber lahirnya gagasan. Mahasiswa tidak hanya diminta melihat persoalan yang ada, tetapi menggunakan kompetensi yang dimiliki untuk ikut menghadirkan penyelesaian.

Selain kemampuan teknis, perjalanan mahasiswa juga perlu dibangun di atas karakter. Dedie menekankan bahwa kompetensi membuat seseorang mampu, karakter membuat seseorang dipercaya, sedangkan integritas membuat seseorang bertahan. Dengan demikian, pencapaian akademik, prestasi, sertifikat, maupun popularitas perlu disertai dengan integritas, disiplin, tanggung jawab, empati, dan kejujuran. Masa kuliah juga menjadi ruang untuk mencoba berbagai hal, termasuk menghadapi kegagalan. Menurut materi yang disampaikan, kegagalan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti selama dapat menjadi bagian dari proses belajar dan evaluasi. Mahasiswa justru didorong untuk mencoba, bangkit, belajar, dan melakukan evaluasi agar dapat terus berkembang.

Pada akhir pemaparannya, Dedie merangkum pesan bagi mahasiswa Angkatan 63 melalui lima hal utama, yaitu teknologi, integritas, keberagaman, problem solver, dan dampak. Kelima hal tersebut menjadi landasan agar mahasiswa mampu tumbuh sebagai generasi yang cerdas sekaligus berkarakter, mampu menguasai teknologi tanpa kehilangan sisi kemanusiaan, serta memiliki orientasi untuk memberikan manfaat.

“Kalian adalah generasi yang akan menentukan wajah Indonesia ke depan. Jadilah generasi yang cerdas, tetapi tetap memiliki karakter. Kuasai teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan, teruslah berkembang dan meraih kesuksesan, tetapi jangan sampai melupakan kepentingan bangsa. Apa yang kalian pelajari dan capai hari ini diharapkan dapat menjadi bekal untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan Indonesia di masa depan,” jelas Dedie A.

Melalui pemaparan tersebut, MPKMB 63 Sekolah Vokasi IPB University menjadi salah satu ruang bagi mahasiswa baru untuk melihat kehidupan perkuliahan dari perspektif yang lebih luas. Perjalanan pendidikan diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan dengan kompetensi yang kuat, tetapi juga generasi yang mampu menjaga persatuan, memanfaatkan teknologi secara bijak, berani menyelesaikan persoalan, dan menghadirkan dampak bagi masyarakat serta Indonesia (NAD).

Alamat & Kontak

KAMPUS BOGOR – Jl. Raya Pajajaran, Kota Bogor, Jawa Barat 16128

KAMPUS SUKABUMI – Jl. Sarasa No. 45, Babakan, Kec. Cibeureum, Kota Sukabumi, Jawa Barat 43142

Select the fields to be shown. Others will be hidden. Drag and drop to rearrange the order.
  • Image
  • SKU
  • Rating
  • Price
  • Stock
  • Availability
  • Add to cart
  • Description
  • Content
  • Weight
  • Dimensions
  • Additional information
Click outside to hide the comparison bar
Compare