Sekolah Vokasi IPB Perkuat Resiliensi Mahasiswa Hadapi FOMO hingga Toxic Productivity

Bogor, 20 September 2026 — Sekolah Vokasi IPB memperkuat kesiapan mahasiswa dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan akademik dan perkembangan era digital melalui seminar “Digital-Era Stress and Burnout Management : Penguatan Resilience Mahasiswa dalam Menghadapi Toxic Productivity dan Information Overload”. Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Hibah Softskill dan Pengembangan Karakter Sekolah Vokasi IPB tersebut mengangkat tema “Building Resilience and Self-Management in Digital Era”. Seminar berlangsung di Gedung ZT B06–B07 Sekolah Vokasi IPB dengan menghadirkan Muthia Annisa, M.Psi., Psikolog sebagai narasumber dan diikuti mahasiswa Sekolah Vokasi IPB angkatan 63.

Kegiatan yang diselenggarakan Komisi Kedisiplinan dan Kemahasiswaan Sekolah Vokasi IPB bekerja sama dengan Dewan Perwakilan Mahasiswa Sekolah Vokasi IPB tersebut membahas sejumlah tantangan yang dekat dengan kehidupan mahasiswa. Materi mencakup information overload, Fear of Missing Out (FOMO), social comparison, toxic productivity, stres, hingga burnout. Pembahasan diarahkan untuk membantu mahasiswa mengelola informasi, pikiran, emosi, dan energi secara lebih sehat.

Penguatan softskill dan karakter menjadi bagian penting dalam mendukung mahasiswa menghadapi berbagai tuntutan akademik dan kehidupan di era digital. Kemampuan mengelola diri juga diperlukan agar mahasiswa dapat mengenali tekanan, menentukan prioritas, serta beradaptasi dengan perubahan yang dihadapi.

“Mahasiswa tidak hanya perlu dibekali kemampuan akademik, tetapi juga kemampuan untuk mengelola diri, menghadapi tekanan, serta beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi di era digital,” ujar Khoirul Aziz Husyairi, M.Si., selaku Ketua Komisi Kedisiplinan dan Kemahasiswaan Sekolah Vokasi IPB.

Materi seminar kemudian membahas information overload, yaitu kondisi ketika jumlah informasi yang diterima melebihi kemampuan seseorang untuk memprosesnya secara efektif. Kondisi tersebut dapat membebani perhatian dan working memory, sehingga seseorang dapat mengalami kesulitan menyaring informasi yang relevan, stres, hingga penurunan kualitas pengambilan keputusan. Mahasiswa juga diajak memahami pentingnya kemampuan mengelola informasi sebagai bagian dari self-management.

Pengelolaan informasi menjadi semakin penting karena aktivitas mahasiswa tidak terlepas dari tugas kuliah, artikel jurnal, rapat, pesan instan, serta berbagai platform digital. Kemampuan memilih informasi dan menentukan prioritas menjadi salah satu cara untuk menghindari penumpukan informasi yang tidak diperlukan.

“Kita perlu belajar memilih informasi, menentukan prioritas, dan mengatur bagaimana informasi tersebut diterima serta diproses agar tidak menjadi beban,” ujar Muthia Annisa, M.Psi.

Pembahasan dilanjutkan dengan FOMO dan social comparison yang banyak ditemukan dalam penggunaan media sosial. FOMO dapat mendorong seseorang terus terhubung dengan media sosial, sementara social comparison dapat memberikan dampak berbeda bergantung pada cara seseorang merespons pencapaian orang lain. Mahasiswa diajak melihat perbandingan secara konstruktif sebagai sarana evaluasi, perbaikan, dan peningkatan diri.

Seminar juga membahas toxic productivity, yaitu dorongan untuk terus produktif secara berlebihan hingga nilai diri semakin bergantung pada pencapaian. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang sulit berhenti bekerja dan memberikan ruang untuk beristirahat. (Draft kutipan untuk dikonfirmasi): “Produktif bukan berarti harus terus bekerja. Istirahat dan memberikan ruang untuk pemulihan juga merupakan bagian dari kemampuan mengelola energi,” ujar Muthia Annisa, M.Psi., Psikolog.

Mahasiswa juga memperoleh pemahaman mengenai perbedaan stres dan burnout. Stres merupakan respons terhadap situasi atau tuntutan yang umumnya bersifat jangka pendek, sedangkan burnout berkaitan dengan kelelahan fisik, mental, dan emosional akibat tuntutan berkepanjangan. Materi tersebut turut mengenalkan resiliensi sebagai proses yang dapat dipelajari, dilatih, dan dikembangkan melalui hubungan suportif, menjaga kesejahteraan, mengatur pikiran dan emosi, berfokus pada hal yang dapat dilakukan, serta menemukan makna dan harapan.

Sebagai keterampilan praktis, mahasiswa diperkenalkan pada The 3-Step Approach dalam mengelola informasi secara efektif. Tahap tersebut meliputi Receive & Evaluate, Understand & Determine Depth, serta Adapt & Integrate. Pendekatan ini membantu mahasiswa mengevaluasi informasi, memahami relevansinya, serta mengintegrasikan pengetahuan baru sesuai kebutuhan dan konteks.

Melalui kegiatan ini, Sekolah Vokasi IPB menempatkan pengembangan softskill dan karakter sebagai bagian dari kesiapan mahasiswa menghadapi kehidupan akademik dan tantangan era digital. Mahasiswa diharapkan mampu membangun pola produktivitas yang lebih sehat dan berkelanjutan melalui kemampuan mengelola informasi, mengenali tekanan, serta mengembangkan resiliensi (NAD).

Alamat & Kontak

KAMPUS BOGOR – Jl. Raya Pajajaran, Kota Bogor, Jawa Barat 16128

KAMPUS SUKABUMI – Jl. Sarasa No. 45, Babakan, Kec. Cibeureum, Kota Sukabumi, Jawa Barat 43142

Select the fields to be shown. Others will be hidden. Drag and drop to rearrange the order.
  • Image
  • SKU
  • Rating
  • Price
  • Stock
  • Availability
  • Add to cart
  • Description
  • Content
  • Weight
  • Dimensions
  • Additional information
Click outside to hide the comparison bar
Compare