
Sekolah Vokasi IPB University terus memperkuat perannya sebagai pelopor pendidikan vokasi berbasis riset melalui pelaksanaan program penelitian Berdikari Emas 2025. Program ini tidak hanya bertujuan menghasilkan inovasi teknologi pertanian, tetapi juga upaya dalam mengembangkan produk-produk unggulan Teaching Factory (TeFa) yang berbasis pada potensi daerah, khususnya di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Program riset yang melibatkan dosen lintas prodi dan mahasiswa ini berfokus pada pengembangan bioaktivator dan pupuk organik cair maupun padat dari limbah organik, termasuk pemanfaatan keong mas dan air cucian beras. Riset ini berangkat dari pemetaan ekosistem kemitraan yang telah dilakukan sejak 2023, dan kini terus bergulir menjadi produk riset yang terintegrasi dalam pengembangan pembelajaran vokasional.
“Kami dari tim peneliti SV-IPB menginisiasi riset ini untuk menjawab tantangan pengelolaan limbah organik yang belum optimal di sentra hortikultura seperti Cianjur, Dengan pendekatan Teaching Factory, riset ini kami arahkan untuk menghasilkan produk yang tidak hanya aplikatif, tetapi juga memiliki nilai komersial dan berkelanjutan,”” ujar Dr. Doni Sahat Tua Manalu, S.E., M.Si., Ketua Tim Peneliti.
Menurut Dr. Doni, SV-IPB telah memiliki fondasi yang kuat dalam bidang produksi pupuk organik dari riset-riset sebelumnya. Melalui pendekatan kolaboratif yang melibatkan mitra lokal seperti kelompok tani, SMK, dan Okiagaru Agricoop, tim riset menciptakan inovasi yang bersumber dari realitas lapangan dan dikelola dengan prinsip manajemen vokasional modern.
“Tim kami berasal dari berbagai keilmuan—manajemen bisnis, lingkungan, pertanian terpadu, komunikasi digital, hingga mutu pangan. Ini menunjukkan bahwa manajemen riset vokasi membutuhkan kolaborasi multidisiplin untuk menciptakan solusi nyata,” jelas Dr. Doni.
Ia juga menekankan pentingnya komitmen mitra, baik dari sektor petani, lembaga pendidikan lokal, hingga tokoh masyarakat. Seluruh proses sosialisasi, pengembangan produk, dan diseminasi dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan setempat, agar hasil penelitian benar-benar terimplementasi dan bermanfaat.
Produk hasil riset ini nantinya akan masuk dalam skema Teaching Factory SV-IPB, yang tidak hanya ditujukan untuk pembelajaran, tetapi juga untuk hilirisasi produk ke pasar. Dengan konsep ini, SV-IPB ingin memastikan bahwa inovasi dari kampus vokasi benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat dan menjadi bagian dari solusi ekonomi berbasis daerah.
“Kami berharap produk pupuk organik ini akan menjadi model riset berbasis Teaching Factory yang dapat direplikasi di wilayah lain. Ini bukan sekadar produk laboratorium, tapi hasil kolaborasi antara riset, pendidikan, dan kewirausahaan lokal,” pungkas Dr. Doni.
Penelitian Katalisator Berdikari Skema Emas ini didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui program pendanaan yang diprakarsai oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi (Minat Saintek), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) pada tahun anggaran 2025.. (ASW)